Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan klaim kontroversial terkait kebijakan luar negerinya di Timur Tengah dan hubungannya dengan China. Trump menyatakan bahwa rencananya untuk membuka Selat Hormuz secara permanen akan menjadi agenda besar yang mempererat hubungannya dengan Presiden China, Xi Jinping.

BACA JUGA : Diplomasi China di Selat Hormuz: Mendesak Keamanan Navigasi dan Penghormatan Kedaulatan

Agenda Kunjungan ke Beijing dan Prediksi “Pelukan Hangat”

Dalam sebuah unggahan di platform Truth Social pada Rabu (15/4/2026), Trump mengekspresikan optimisme tinggi menjelang kunjungannya ke Beijing yang dijadwalkan pada 14-15 Mei mendatang. Ia meyakini bahwa langkah strategis di Selat Hormuz akan memberikan keuntungan besar bagi ekonomi China, mengingat ketergantungan negara tersebut pada pasokan energi dari jalur tersebut.

“China sangat senang jika saya membuka Selat Hormuz secara permanen. Saya melakukannya untuk mereka, juga untuk dunia. Presiden Xi akan memberi saya pelukan hangat ketika saya tiba dalam beberapa minggu. Kami bekerja sama dengan cerdas dan sangat baik,” tulis Trump.

Trump berargumen bahwa diplomasi dan kerja sama ekonomi jauh lebih baik daripada konfrontasi militer, meskipun ia tetap memberikan peringatan keras mengenai kekuatan militer Amerika Serikat sebagai opsi terakhir.

Diplomasi Surat dan Peringatan Terhadap Iran

Trump juga mengeklaim telah menjalin komunikasi tertulis dengan Xi Jinping untuk menekan dukungan militer terhadap Iran. Ia mengaku telah meminta Beijing untuk menghentikan pasokan senjata ke Teheran dan mengklaim telah menerima tanggapan positif dari Xi.

Namun, Trump tidak merinci detail waktu pertukaran surat tersebut. Sebagai langkah preventif, ia kembali menegaskan ancaman kebijakan ekonominya: negara mana pun yang terbukti memasok senjata ke Iran akan menghadapi konsekuensi berupa tarif perdagangan hingga 50 persen.

Kontradiksi Data dan Situasi di Lapangan

Meskipun Trump menunjukkan nada bicara yang sangat optimistis, terdapat kesenjangan yang signifikan antara klaimnya dengan laporan intelijen serta media internasional:

  1. Laporan Pengiriman Senjata: CNN melaporkan adanya indikasi Beijing tengah mempersiapkan pengiriman sistem pertahanan udara ke Iran.
  2. Dukungan Teknologi: Financial Times mengungkapkan dugaan penggunaan satelit mata-mata milik China oleh pihak Teheran untuk kepentingan militer.
  3. Bantahan China: Kementerian Luar Negeri China secara konsisten membantah adanya dukungan militer langsung kepada Iran dalam beberapa hari terakhir.

Signifikansi Strategis Selat Hormuz

Ketertarikan besar China terhadap stabilitas Selat Hormuz bukanlah tanpa alasan. Sebagai jalur energi paling vital di dunia, selat ini merupakan lintasan bagi lebih dari seperlima total minyak dunia setiap tahunnya. Bagi China, jalur ini sangat krusial karena 45 hingga 50 persen impor minyak mentah mereka bergantung sepenuhnya pada keamanan Selat Hormuz.

Langkah Trump yang mengeklaim “pembukaan permanen” selat tersebut dipandang sebagai upaya untuk memposisikan Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan global sekaligus alat tawar-menawar (bargaining chip) dalam negosiasi dagang dan geopolitik yang lebih luas dengan Beijing.