Pemerintah Amerika Serikat mengeklaim telah mengidentifikasi pihak-pihak di dalam internal Iran yang bersedia menyepakati perjanjian akhir guna menghentikan konfrontasi militer. Klaim ini muncul di tengah deteksi intelijen Washington mengenai adanya perpecahan visi di dalam rezim Teheran terkait masa depan perang yang kini telah memasuki minggu ketujuh.

BACA JUGA : Mengenal Uranium: Elemen di Balik Energi Nuklir

Identifikasi Pihak Otoritatif di Teheran

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan pada Kamis (23/4/2026) bahwa pemerintah AS memiliki keyakinan terhadap data intelijen mengenai individu atau kelompok di Iran yang memiliki keinginan untuk berdamai. Meski demikian, Leavitt menolak untuk mengungkap identitas pihak tersebut ke publik.

“Kami menyerahkan rincian teknis kepada komunitas intelijen dan Presiden Donald Trump untuk memberikan detail lebih lanjut pada waktu yang tepat,” ujar Leavitt. Gedung Putih menekankan bahwa prioritas mereka saat ini adalah melihat adanya “tanggapan yang terpadu” dari Teheran, bukan usulan yang bersifat fragmentaris dari berbagai faksi yang berseteru di dalam Iran.

Faktor Mojtaba Khamenei dan Ketidakpastian Arahan

Laporan intelijen menunjukkan bahwa salah satu hambatan terbesar dalam negosiasi adalah transisi kekuasaan dan pengaruh Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Terdapat ketidakpastian mengenai sejauh mana ia memberikan mandat kepada tim negosiasinya.

Pejabat AS mencermati dua kemungkinan:

  1. Apakah delegasi Iran telah menerima instruksi yang jelas dan kaku.
  2. Ataukah tim perunding Iran hanya melakukan spekulasi atas keinginan Pemimpin Tertinggi tanpa adanya garis panduan operasional yang spesifik.

Kekosongan komunikasi internal di pihak Iran ini dinilai memperlambat proses diplomasi di meja perundingan.

Pernyataan Donald Trump: Tanpa Tenggat Waktu

Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan penegasan mengenai sikap militer dan politik Washington. Meskipun sebelumnya ia memprediksi perang hanya akan berlangsung selama empat hingga enam minggu, kini ia menyatakan tidak ada batasan waktu yang kaku untuk menyelesaikan konflik tersebut.

Trump membantah tudingan bahwa keputusannya dipengaruhi oleh agenda politik dalam negeri, khususnya menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections). “Tujuan utamanya adalah mendapatkan kesepakatan terbaik bagi rakyat Amerika, bukan mengejar kecepatan demi kepentingan politik,” tegas Trump.

[Table: Status Konflik AS-Iran per 23 April 2026]

AspekStatus Terkini
Durasi PerangMemasuki Minggu ke-7
Status Gencatan SenjataDiperpanjang (Tanpa Tanggal Berakhir)
Blokade LautTetap Berjalan di Pelabuhan Iran
Tuntutan ASProposal Terpadu dari Pihak Iran

Ekspor ke Spreadsheet

Kelanjutan Blokade dan Tekanan Diplomatik

Meskipun Presiden Trump telah memperpanjang masa gencatan senjata secara teknis, Amerika Serikat tidak mengendurkan tekanan ekonominya. Washington tetap melanjutkan blokade total terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis Iran.

Langkah ini dirancang sebagai instrumen daya tawar agar Teheran segera mengajukan proposal perdamaian yang komprehensif. Dengan blokade yang masih mencekik jalur logistik, AS berupaya memaksa faksi-faksi di Iran untuk bersatu dan memberikan jawaban pasti terkait tawaran penghentian permusuhan yang diajukan oleh Gedung Putih.