Presiden Prabowo Subianto menekankan pentingnya sikap pemaaf dan pengendalian diri bagi setiap individu yang terjun ke dunia politik. Dalam pidatonya pada Perayaan Natal Nasional 2025 di Jakarta, Senin (5/1/2026), Presiden menggarisbawahi bahwa kompetisi politik yang keras tidak boleh menyisakan ruang bagi kebencian, rasa sakit hati, maupun dendam pribadi.
BACA JUGA : Restrukturisasi Delik Aduan: Perlindungan Martabat Negara dalam KUHP Baru
Politik sebagai Kancah Persaingan yang Sehat
Presiden menganalogikan dunia politik layaknya pertandingan olahraga. Ia menyatakan bahwa dalam setiap kompetisi, baik itu sepak bola maupun pemilihan umum, wajar jika setiap pihak tidak ingin kalah dan merasa sedih saat mengalami kegagalan.
“Persaingan sangat keras dan itu tidak menjadi masalah. Namun, kita tidak boleh menyimpan sakit hati atau dendam,” ujar Presiden. Ia secara terbuka merefleksikan pengalamannya sendiri saat mengalami beberapa kali kekalahan dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) di masa lalu sebagai proses kedewasaan yang membentuk sikap teguh pada pendirian untuk tetap merangkul semua pihak.
Nilai Keagamaan sebagai Landasan Etika
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo mengutip nilai-nilai universal yang diajarkan oleh berbagai agama mengenai pengampunan. Secara spesifik, ia merujuk pada ajaran Nasrani yang menekankan untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan.
- Pesan Pengampunan: Mengutip filosofi “memberikan pipi kiri saat pipi kanan ditampar”, Presiden menjelaskan bahwa esensi kepemimpinan adalah kesediaan untuk memaafkan mereka yang pernah bersalah.
- Latar Belakang Keluarga: Beliau menyinggung latar belakang keluarganya yang majemuk sebagai faktor yang memperkuat pemahamannya terhadap nilai-nilai toleransi dan kasih sayang.
Rekonsiliasi sebagai Prioritas Strategis
Presiden juga berbagi cerita mengenai dinamika internal keluarganya, di mana beberapa anggota keluarga mempertanyakan sikapnya yang dianggap terlalu mudah memaafkan lawan politik. Menanggapi hal tersebut, Prabowo menegaskan bahwa kesalahan masa lalu tidak boleh menjadi penghalang untuk bekerja sama di masa depan.
Baginya, tantangan bangsa saat ini menuntut seluruh elemen untuk bersatu.
“Itu kan dulu. Sekarang keadaannya harus bersatu. Kita harus bekerja sama,” tegas Presiden dalam pidatonya.
Makna Politik Rangkulan
Pengembangan dari pernyataan Presiden ini menunjukkan arah kebijakan pemerintahannya yang mengedepankan politik jalan tengah atau politik merangkul. Dengan meminimalkan konflik interpersonal antar-elit politik, diharapkan stabilitas nasional tetap terjaga. Hal ini menjadi krusial dalam upaya pemerintah mempercepat pembangunan nasional tanpa terhambat oleh sisa-sisa polarisasi politik masa lalu.
