JAKARTA — Di balik gemerlap gedung pencakar langit Jakarta, sebuah realitas pahit masih menghantui anak-anak usia sekolah. Fenomena anak jalanan yang menjajakan tisu di titik-titik keramaian seperti stasiun dan lampu merah bukan sekadar pemandangan biasa, melainkan cermin dari terputusnya akses pendidikan akibat himpitan ekonomi.
BACA JUGA : Diplomasi di Tengah Desing Rudal: Analisis Inisiatif Indonesia Menjadi Juru Damai Konflik Iran-AS-Israel
Realitas Ekonomi di Balik Lembaran Tisu
Bagi anak-anak seperti Rizky (11), trotoar di sekitar Stasiun Cikini telah menjadi “sekolah” harian selama delapan bulan terakhir. Saban hari, mulai pukul 14.00 hingga menjelang maghrib, ia menyusuri jalanan demi rupiah yang tak seberapa. Dalam kondisi ramai, Rizky mampu mengantongi Rp 30.000, jumlah yang ia anggap cukup untuk membantu dapur orang tuanya tetap mengepul.
Keluarga Rizky mencerminkan struktur ekonomi rentan di ibu kota. Dengan ayah yang bekerja sebagai buruh bangunan lepas dan ibu rumah tangga, pendidikan formal menjadi kemewahan yang terpaksa dikorbankan. “Pernah sekolah, tapi tidak lanjut,” ungkapnya lirih, menunjukkan hilangnya kesempatan belajar di usia emas.
Siklus Putus Sekolah yang Mengkhawatirkan
Nasib serupa dialami oleh Yaya (10) dan Vian (9). Di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, keduanya telah menanggalkan seragam sekolah demi tumpukan kemasan tisu. Pendapatan harian mereka berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 30.000. Namun, ada pola yang mengkhawatirkan: uang tersebut kerap kali harus “disetor” kepada pihak tertentu, sebuah indikasi adanya tekanan atau eksploitasi di lingkungan jalanan.
Ketangkasan mereka dalam menghindari kendaraan saat lampu lalu lintas berubah hijau menunjukkan betapa akrabnya mereka dengan bahaya fisik di jalanan. Kewaspadaan ini bukan lahir dari latihan, melainkan insting bertahan hidup yang terpaksa diasah terlalu dini.
Dilema Antara Pendidikan dan Kebutuhan
Tidak semua anak jalanan benar-benar meninggalkan bangku sekolah. Aldi (11), misalnya, mencoba menempuh jalan tengah. Ia baru berjualan selama tiga bulan dan hanya turun ke jalan setelah jam sekolah usai.
“Kalau hari biasa paling dapat Rp 15.000. Kalau Sabtu-Minggu bisa lebih,” ujar Aldi. Meski kelelahan membayangi, ia tetap berusaha mempertahankan statusnya sebagai pelajar sambil menyisihkan recehan untuk membantu ibunya.
Di sisi lain, faktor lingkungan dan perpecahan keluarga juga menjadi pemicu utama. Bagas (13), remaja asal Johar Baru, memilih berhenti sekolah setahun lalu setelah orang tuanya bercerai. Hidup bersama neneknya, Bagas mengaku awalnya hanya ikut-ikutan teman sebelum akhirnya terperangkap dalam rutinitas harian di jalanan.
Menanti Solusi Sistemik
Kasus-kasus di atas menegaskan bahwa masalah anak jalanan di Jakarta bukan sekadar masalah kemiskinan personal, melainkan isu sistemik yang mencakup:
- Ketidakstabilan Ekonomi Keluarga: Ketergantungan pada sektor informal yang tidak menentu.
- Disintegrasi Sosial: Perceraian orang tua yang membuat anak kehilangan figur pelindung.
- Lingkungan Pergaulan: Tekanan teman sebaya yang menarik anak-anak dari sekolah ke jalanan.
Tanpa intervensi yang menyentuh akar permasalahan ekonomi keluarga, lembaran tisu akan terus menjadi tumpuan hidup bagi mereka yang seharusnya duduk di bangku kelas.
