Kehangatan silaturahmi dan tradisi berkumpul bersama keluarga di hari raya Idul Fitri merupakan momen yang paling dinantikan oleh umat Muslim. Namun, realitas tersebut tidak selalu berpihak pada setiap orang. Bagi para pekerja di sektor pelayaran, samudera sering kali menjadi saksi bisu kesunyian mereka saat gema takbir berkumandang. Salah satu kisah perjuangan ini datang dari Lajumani, seorang pelaut berusia 50 tahun asal Ambon yang harus merelakan waktu pribadinya demi tuntutan profesi.
BACA JUGA : Mitos vs Fakta Slot Online: Mengapa Tidak Ada “Waktu Keberuntungan” yang Pasti
Setelah menghabiskan masa cuti selama dua bulan di kampung halaman, pria yang akrab disapa Juma ini harus kembali membelah lautan tepat saat suasana Lebaran mulai terasa. Sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal pengangkut minyak dengan rute internasional menuju Singapura, ia menyadari bahwa panggilannya untuk mencari nafkah mengharuskannya berada jauh dari dekapan keluarga.
Kendala Logistik dan Penantian di Pelabuhan
Perjalanan Juma menuju tempat tugasnya di Singapura tidaklah sederhana. Karena keterbatasan rute transportasi laut langsung dari Ambon menuju Batam, ia terpaksa melakukan transit panjang di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Fenomena ini menggambarkan tantangan logistik yang sering dihadapi oleh para pekerja migran domestik yang bergantung pada jalur laut.
Juma telah berada di pelabuhan sejak Minggu, 8 Maret 2026. Ia harus menunggu hampir satu minggu penuh sebelum kapal yang menuju Batam bersandar pada Sabtu, 14 Maret 2026. Penantian panjang ini merupakan dampak dari kesalahan komunikasi dengan pihak kantor terkait pemesanan tiket. Meski sempat ditawari untuk menggunakan transportasi udara, komitmen terhadap tiket kapal yang sudah terlanjur dipesan membuatnya harus bersabar menginap di kawasan pelabuhan. Bagi Juma, efisiensi biaya sebesar Rp312.000 untuk tiket kapal laut tetap menjadi pertimbangan rasional di tengah situasi tersebut.
Dedikasi yang Teruji Waktu
Rekam jejak Juma di dunia maritim bukanlah hal baru. Ia telah memulai kariernya sebagai pelaut lintas negara sejak tahun 2007. Meski sempat mengalami masa vakum selama 11 tahun karena alasan personal, panggilan untuk kembali ke laut akhirnya ia ambil delapan bulan yang lalu. Sebagai ayah dari dua anak, motivasi utamanya adalah memastikan kesejahteraan keluarga di Ambon, meskipun konsekuensinya adalah kehilangan waktu kebersamaan yang berharga.
Sebelum keberangkatannya kali ini, Juma sempat merasakan delapan bulan berlayar tanpa sekalipun bertemu dengan istri dan anak-anaknya. Cuti dua bulan yang baru saja berlalu menjadi bekal emosional baginya untuk kembali menghadapi isolasi di tengah laut selama berbulan-bulan ke depan.
Lebaran di Atas Dek: Sebuah Keniscayaan Pelaut
Menjelang Idul Fitri yang jatuh tidak lama lagi, Juma sudah mengantisipasi bahwa dirinya akan berada di atas kapal saat hari kemenangan tiba. Baginya, ini adalah bagian dari risiko profesi yang harus diterima dengan lapang dada. Merayakan Lebaran di tengah laut berarti mengganti hidangan khas rumah dengan jatah makan di kantin kapal, dan mengganti pelukan keluarga dengan sambungan telepon singkat jika sinyal memungkinkan.
Ia menjelaskan bahwa satu-satunya harapan untuk bisa melaksanakan ibadah salat Idul Fitri secara berjamaah adalah jika kapal kebetulan sedang bersandar di dermaga. Jika posisi kapal berada di tengah perairan internasional, maka perayaan dilakukan secara sederhana di antara sesama rekan kerja yang senasib.
Kisah Lajumani adalah representasi dari ribuan pelaut Indonesia yang terus bekerja menjaga urat nadi distribusi logistik dunia di saat orang lain beristirahat. Pengorbanan mereka menjadi pengingat bahwa di balik kenyamanan yang kita rasakan di darat, ada mereka yang bertaruh rindu di tengah deburan ombak demi nafkah dan dedikasi.
