Bencana banjir hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Aceh Timur sejak akhir tahun 2025 telah menimbulkan dampak ekonomi yang sangat destruktif. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Timur melaporkan bahwa kerugian pada sektor perikanan saja ditaksir telah menembus angka Rp 2,64 triliun. Angka ini mencerminkan kehancuran infrastruktur serta hilangnya komoditas budi daya yang menjadi tumpuan hidup ribuan warga.

BACA JUGA : Gugatan Akademis terhadap KUHAP Baru: Menakar Eksistensi Indonesia sebagai Negara Hukum

Kerusakan Infrastruktur dan Kegagalan Produksi

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Aceh Timur, Afifullah, menjelaskan bahwa terjangan air tidak hanya merendam, tetapi juga menghancurkan struktur fisik tambak. Kerusakan masif ini meliputi:

  • Kehilangan Komoditas: Hanyutnya stok ikan dan udang siap panen di ribuan hektar tambak budi daya.
  • Kerusakan Fisik: Jebolnya tanggul tambak, rusaknya pintu air, serta hancurnya peralatan pendukung budi daya lainnya.
  • Sektor Garam: Lokasi produksi garam milik masyarakat turut terdampak, menambah daftar panjang hilangnya mata pencaharian warga pesisir.

“Situasi ini menyebabkan kelumpuhan total pada aktivitas ekonomi masyarakat. Banyak pembudidaya yang kini kehilangan aset dan sumber penghasilan karena tambak mereka rusak berat dan tidak bisa lagi digunakan dalam waktu dekat,” ungkap Afifullah pada Jumat (2/1/2026).


Ancaman Ekosistem dan Pemulihan Jangka Panjang

Selain kerugian material yang kasat mata, BPBD juga menyoroti ancaman degradasi lingkungan. Air banjir yang terkontaminasi lumpur dan limbah menurunkan kualitas air di kawasan tambak secara drastis.

Beberapa risiko lanjutan yang diidentifikasi meliputi:

  1. Kematian Massal Ikan: Penurunan kualitas air berpotensi memicu penyakit atau kematian ikan dalam jangka panjang meski banjir telah surut.
  2. Biaya Pemulihan Tinggi: Restorasi ekosistem tambak membutuhkan investasi besar untuk pembersihan lahan dan perbaikan pH air sebelum dapat digunakan kembali untuk penebaran bibit baru.

Skala Dampak Sosial

Secara akumulatif, banjir yang dipicu oleh cuaca ekstrem sejak November 2025 ini telah berdampak pada 443 gampong (desa) di 24 kecamatan. Tercatat sebanyak 290.582 jiwa dari 81.603 keluarga terdampak secara langsung oleh bencana ini. Mengingat sektor perikanan adalah tulang punggung ekonomi daerah, lumpuhnya sektor ini diprediksi akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi regional Aceh Timur.


Urgensi Intervensi Pemerintah Pusat

Meski saat ini pemerintah daerah masih berfokus pada fase tanggap darurat dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, Afifullah menekankan perlunya intervensi dari Pemerintah Provinsi dan Pusat dalam fase rehabilitasi nantinya.

“Sektor perikanan adalah urat nadi ekonomi Aceh Timur. Dukungan bantuan modal, perbaikan infrastruktur pengairan, dan pemberian bibit bagi para petambak sangat dibutuhkan agar masyarakat dapat segera bangkit dari krisis ekonomi ini,” pungkasnya.