GUADALAJARA – Stabilitas keamanan Meksiko sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 kembali berada dalam titik nadir. Pada Minggu, 22 Februari 2026, gelombang kekerasan skala besar melumpuhkan Negara Bagian Jalisco dan beberapa wilayah sekitarnya, memicu keraguan publik internasional mengenai jaminan keselamatan bagi pemain, ofisial, dan penggemar selama turnamen berlangsung.

BACA JUGA : Menuju Era Keemasan: Indonesia dan Amerika Serikat Resmikan Perjanjian Tarif Resiprokal (ART)

1. Kronologi Lumpuhnya Infrastruktur Strategis

Insiden dimulai pada Minggu pagi ketika akses utama menuju Estadio Akron di Guadalajara—stadion yang dijadwalkan menggelar empat pertandingan fase grup Piala Dunia—terputus total. Sebuah bus dibakar oleh kelompok bersenjata di titik sekitar 1,5 kilometer dari stadion, tepatnya di area lintasan gokart Sergio “Checo” Pérez.

Aksi ini merupakan bagian dari taktik narcobloqueos (blokade kartel) yang diluncurkan oleh Cartel de Jalisco Nueva Generación (CJNG). Blokade ini merupakan respons milisi kartel atas operasi pasukan federal yang menewaskan pemimpin tertinggi mereka, Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes.

2. Eskalasi Kekerasan dan Protokol “Siaga Merah”

Kekacauan tidak terbatas pada blokade jalan, melainkan meluas hingga ke sektor publik dan komersial:

  • Blokade Masif: Pembajakan dan pembakaran bus serta taksi terjadi serentak dari pusat kota Guadalajara hingga destinasi wisata Puerto Vallarta.
  • Serangan Ritel: Penjarahan dan pembakaran fasilitas komersial, termasuk gerai ritel besar seperti Costco dan sejumlah toko kelontong di beberapa negara bagian.
  • Lumpuhnya Aktivitas: Pemerintah kota mengaktifkan protokol Siaga Merah, yang memaksa penutupan bar, restoran, dan pembatasan ketat mobilitas warga.

Dampaknya merambah ke dunia olahraga. Pertandingan Clasico Nacional tim putri antara Chivas dan Club América resmi ditunda. Meski belum ada laporan blokade di Querétaro, laga Liga MX putra yang berjarak 320 kilometer dari pusat kerusuhan juga terpaksa dijadwalkan ulang demi faktor keamanan.


3. Rekam Jejak Kekerasan dalam Sepak Bola Meksiko

Kekhawatiran yang muncul saat ini bukan tanpa landasan sejarah. Selama beberapa dekade, pejabat politik dan otoritas liga di Meksiko berjuang memisahkan atmosfer sepak bola dari pengaruh kekerasan kartel. Dua insiden ikonik tetap membekas dalam ingatan publik:

  • Tragedi Stadion Corona (2011): Baku tembak pecah tepat di luar markas Santos Laguna saat laga melawan Monarcas Morelia sedang berlangsung, memaksa pemain dan suporter mencari perlindungan di tengah lapangan di bawah bayang-bayang trauma.
  • Kerusuhan Querétaro (2022): Bentrokan antar-suporter yang berujung pada kekerasan brutal di tribun, yang meskipun tidak terkait langsung dengan kartel, menunjukkan rapuhnya kontrol keamanan di dalam stadion.

4. Tantangan bagi FIFA dan Otoritas Tuan Rumah

Piala Dunia 2026 merupakan kolaborasi tiga negara (Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko). Namun, situasi di Jalisco menempatkan Meksiko dalam sorotan tajam. Para analis keamanan memperingatkan bahwa jika pemerintah federal tidak mampu mengendalikan faksi-faksi CJNG pasca-tewasnya “El Mencho”, risiko gangguan selama turnamen akan meningkat drastis.

Tantangan utama bagi panitia penyelenggara kini meliputi:

  1. Pengamanan Jalur Logistik: Memastikan akses menuju stadion tetap steril dari blokade bersenjata.
  2. Perlindungan Wisatawan: Menjamin zona-zona turis seperti Puerto Vallarta aman dari serangan proksi kartel.
  3. Intelijen Preseptif: Kerja sama militer-polisi untuk mencegah serangan balasan kartel yang bertepatan dengan kalender pertandingan internasional.

Keputusan FIFA untuk tetap mempertahankan Meksiko sebagai tuan rumah kini bergantung pada seberapa efektif otoritas setempat dalam memulihkan ketertiban dalam beberapa bulan ke depan. Kegagalan dalam meredam kerusuhan ini dapat memicu tekanan internasional untuk merelokasi pertandingan ke wilayah yang lebih stabil di Amerika Serikat atau Kanada.