Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, yang menegaskan dukungan partainya bagi Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 mendatang memicu berbagai analisis politik. Pengamat Politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai langkah tersebut sebagai bentuk sikap politik yang realistis di tengah dominasi figur petahana.
BACA JUGA : Membangun Support System: Peran Komunitas dalam Membantu Korban Judi Online Bangkit Kembali
Dominasi Prabowo sebagai Petahana
Menurut Adi Prayitno, posisi Prabowo Subianto sebagai presiden petahana pada tahun 2029 akan sangat sulit ditandingi oleh figur mana pun. Kekuatan politik, akses sumber daya, dan rekam jejak selama menjabat diprediksi akan memperkuat elektabilitas Prabowo secara signifikan.
“Dukungan ini bisa dimaknai sebagai langkah pragmatis. Dalam konteks pencalonan 2029, Prabowo adalah figur terkuat. Tidak hanya bagi Golkar, figur lain di luar koalisi pun nampaknya akan menghadapi tantangan besar untuk mengimbangi kekuatan beliau,” ujar Adi pada Minggu (21/12/2025).
Diplomasi Loyalitas dan Latar Belakang Militer
Lebih lanjut, Adi menyoroti bahwa pernyataan Bahlil merupakan upaya untuk mengunci posisi Golkar sebagai mitra koalisi utama. Mengingat latar belakang Prabowo yang berasal dari militer—sebuah institusi yang sangat menjunjung tinggi nilai kesetiaan—Bahlil ingin mengirimkan pesan bahwa Golkar adalah partai yang paling loyal sejak awal.
Strategi ini dianggap penting untuk memastikan posisi tawar Golkar di dalam pemerintahan tetap stabil hingga periode kedua kepemimpinan Prabowo nantinya.
Krisis Kader di Tubuh “Pohon Beringin”
Di sisi lain, dukungan dini ini juga mengungkap sisi lemah Partai Golkar. Adi Prayitno menilai Golkar tengah mengalami krisis figur internal yang memiliki daya jual di tingkat pemilihan presiden.
- Spesialis Legislatif: Golkar diakui sangat kuat dalam Pemilihan Legislatif (Pileg), namun seringkali gagal memajukan kader internal untuk posisi RI-1 atau RI-2.
- Minim Tokoh Nasional: Sejak era Jusuf Kalla, belum ada lagi kader Golkar yang mampu menembus kontestasi Pilpres dengan elektabilitas yang kompetitif.
- Ketergantungan Figur Luar: Dengan menyebut Prabowo sebagai “alumni Golkar”, partai ini mencoba merangkul legitimasi politik dari figur luar yang memiliki keterikatan historis.
Komitmen Bahlil: “Koalisi Tanpa Ragu”
Dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di DPP Partai Golkar, Sabtu (20/12/2025), Bahlil Lahadalia memberikan pidato yang cukup tajam. Ia menekankan bahwa Golkar di bawah kepemimpinannya tidak akan bersikap ambivalen atau ragu-ragu.
Bahlil bahkan mengibaratkan loyalitasnya seperti “sopir angkot” yang hanya tahu cara melaju ke depan tanpa bisa mundur. Ia juga sempat menyindir gaya kepemimpinan lama yang dinilainya sering maju-mundur dalam mengambil keputusan politik strategis.
“Kita tidak boleh masuk dalam koalisi yang setengah hati atau ‘banci’. Sebagai partai pengusung yang mengawal kemenangan Prabowo-Gibran, sudah menjadi konsekuensi bagi kita untuk setia hingga akhir masa jabatan 2029,” tegas Menteri ESDM tersebut.
Target Politik 2029
Selain fokus pada Pilpres, Bahlil juga memaparkan peta jalan politik Golkar untuk periode mendatang:
- Target Kursi DPR: Mengincar lebih dari 102 kursi di Senayan pada Pileg 2029.
- Kesuksesan Pilkada: Mempertahankan tren positif kemenangan 60 persen di tingkat Pilkada (Gubernur, Bupati, dan Wali Kota).
- Sinergi Pemerintah: Memastikan program-program Prabowo-Gibran berjalan sukses sebagai modal kampanye di masa depan.
Dukungan awal ini menandai babak baru bagi Golkar yang memilih untuk menjadi “benteng” bagi petahana daripada mencoba peruntungan dengan mengusung kader internal yang belum teruji secara elektoral di level nasional.
