Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data mendalam mengenai pemicu utama bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Sumatera baru-baru ini. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengungkapkan bahwa curah hujan yang mengguyur Aceh pada akhir November 2025 merupakan yang tertinggi dalam catatan sejarah enam tahun terakhir di Indonesia.

BACA JUGA : BMKG Keluarkan Peringatan Dini: Potensi Hujan Sangat Lebat Hingga 1 Januari 2026

Faktor Pemicu: Siklon Senyar dan Intensitas Ekstrem

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di Aceh pada 26 November 2025 mencapai angka 411 mm/hari. Lonjakan drastis ini dipicu oleh aktivitas Siklon Senyar. Sebagai perbandingan, intensitas ini melampaui rekor hujan ekstrem saat banjir besar Jakarta tahun 2020 maupun Siklon Seroja di NTT tahun 2021.

“Inilah faktor pemicu utama mengapa dampak yang ditimbulkan saat ini sangat signifikan dan merusak,” jelas Abdul Muhari dalam pembaruan data bencana secara virtual pada Jumat (26/12/2025).

Perbandingan Curah Hujan Ekstrem (Catatan BMKG 6 Tahun Terakhir)

Untuk memberikan gambaran mengenai skala bencana saat ini, BNPB menyajikan data pembanding curah hujan tertinggi di Indonesia sebagai berikut:

WilayahTanggalIntensitas (mm/hari)
Aceh26 November 2025411
Sumatera Utara27 November 2025390
Bali10 September 2025386
Jakarta1 Januari 2020377
NTT (Siklon Seroja)4 April 2021306
Sumatera Barat25 November 2025261
Jakarta3 Maret 2025232
Jakarta19 Februari 2021226

Pembaruan Data Korban Jiwa

Seiring dengan upaya evakuasi yang terus berjalan, jumlah korban jiwa akibat bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh dilaporkan masih terus bertambah. Per Jumat, 26 Desember 2025, total korban tewas kini mencapai 1.137 jiwa.

“Ada penambahan dua korban meninggal dunia jika dibandingkan dengan data kemarin, yang ditemukan di wilayah Aceh dan Sumatera Barat,” ujar Abdul.

Upaya Pencarian Orang Hilang

Selain korban jiwa yang terkonfirmasi, BNPB mencatat masih ada 163 orang yang dilaporkan hilang. Angka ini tersebar di tiga provinsi terdampak paling parah. Abdul Muhari memastikan bahwa personel Basarnas bersama tim gabungan di lapangan masih terus melakukan upaya pencarian dan penyisiran di titik-titik reruntuhan dan area aliran banjir guna menindaklanjuti laporan kehilangan dari masyarakat.

Pemerintah terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk memastikan pendistribusian logistik dan penanganan penyintas di posko-posko pengungsian berjalan efektif di tengah ancaman cuaca yang masih fluktuatif.